GPOP-Menunggu waktu berbuka puasa menjadi momen yang dinanti-nanti oleh banyak orang, terutama bagi remaja perempuan yang memiliki nama lengkap Riska Dwi Amiranda. Ia seringkali mengisi waktu ngabuburitnya dengan berburu takjil.

Bagi siswi SMAN 3 Kota Palangka Raya ini berburu takjil adalah tradisi unik Ramadan yang selalu membuatnya antusias. Selain mendapatkan makanan untuk berbuka, ia juga melihat makna lebih luas dari berburu takjil. Yakni mempererat kerukunan, mendapatkan kebahagiaan dan belajar arti kesabaran dalam menunggu waktu berbuka.

Perempuan yang lahir di Kota Palangka Raya ini mengungkapkan bahwa berburu takjil menjadi cara seru untuk mengusir rasa bosan saat menunggu waktu berbuka.

“Kalau cuma diam atau keliling pakai motor, malah lebih terasa lama dan jadi habisin bensin,” ujarnya sambil tertawa.

Menurut perempuan yang akrab disapa Riska ini, dengan berburu takjil membuat waktu berlalu lebih cepat, karena ramai dan padatnya tempat yang menjual takjil, membuat suasana berburu takjil semakin menantang.

Bukan pasar Ramadan yang menjadi destinasi favorit Riska dalam membeli takjil, melainkan ia lebih memilih berburu takjil di pinggir jalan, seperti di depan gedung TVRI Kalimantan Tengah. Lebih leluasa dalam memilih takjil dan menghindari desak-desakan menjadi alasan utamanya dalam berburu takjil.

“Di sana jajanannya banyak, tempatnya luas, dan nggak terlalu penuh,” jelasnya.

Kue Sarimuka merupakan salah satu takjil favorit yang selalu remaja berzodiak Pisces ini cari setiap Ramadan. “Saya suka banget sama ketan, terus dikombinasikan sama lapisan gula merah di atasnya. Rasa gurih dan manisnya enak banget apalagi kalau dimakan dingin-dingin,” katanya sembari menggambarkan kelewatan kue tersebut.

Selain penggemar kue sarimuka, ia juga penggemar berat risoles. Hampir semua jenis bentuk dan berbagai isian risoles gadis ini sukai. Menurutnya jajanan risoles ini cukup mengenyangkan dan ramah di kantong.

Dalam memilih takjil, remaja yang punya hobi memasak ini selalu memperhatikan kebersihan tempat jualan dan harga takjil tersebut. “Kebersihan itu penting banget, tempat yang kurang bersih bisa buat kurang nafsu makan,” tegasnya.

Sebagai pelajar, ia juga pintar mengelola keuangan. “Harga murah tidak menjamin rasa, kok. aku pernah membeli makanan mahal, tapi rasanya biasa saja,” tambahnya.

Menurut remaja kelahiran tahun 2007 ini, puasa tanpa berburu takjil rasanya kurang afdol. Karena tradisi ini hanya terjadi setahun sekali. Apalagi tren yang sempat viral di tahun kemarin yakni war takjil yang terjadi antara umat islam dan non islam.

Ia juga melihat tradisi ini sebagai bentuk toleransi antarumat beragama dan kesempatan untuk meningkatkan kebahagiaan serta kesabaran. “Semua orang bisa ikut berburu takjil, tidak cuma umat Islam. Ini momen kebersamaan yang bikin Ramadan makin spesial,” tuturnya.

Di bulan Ramadan tahun ini, perempuan yang menyukai warna putih ini merasakan tantangan tersendiri. Menurutnya, tahun ini bulan Ramadan cukup panas dan selama dua minggu sekolah full puasa.

“Tapi malah seru puasa sambil sekolah, karena di sekolah nggak kerasa sudah jam berapa, tahu-tahu sudah siang saja,” ujarnya. (*ian/abw)

 

Leave a Comment

Follow Me

KALTENGPOS DIGITAL

Edisi terbaru Kalteng Pos

About Me

Newsletter